PENDAHULUAN
Dalam implementasi proses pendidikan
guru merupakan komponen yang paling penting, sebab keberhasilan pelaksanaan
proses pembelajaran sangat tergantung pada guru sebagai ujung tombak. Oleh
karena itu upaya peningkatan kualitas pendidikan seharusnya dimulai dari
pembenahan kemampuan guru adalah bagaimana merancang salah satu strategi
pembelajaran yang sesuai dengan tujuan atau kompetensi yang akan dicapai karena
kita yakin dengan tujuan bisa dicapai oleh satu strategi pembelajaran tertentu
(Wina Sanjaya, 2006: 24).
Strategi belajar mengajar adalah usaha
nyata guru dalam praktik mengajar yang
di nilai lebih aktif dan efisien atau politik dan taktik guru yang
dilaksanakan dalam praktek mengajar di kelas (Sunhaji, 2009: 2).
|
Untuk itu, dalam pembelajarannya perlu
adanya strategi-strategi yang tepat dalam menunjang tercapainya tujuan yang
maksimal. Salah satunya dengan strategi pembelajaran aktif yaitu strategi Cooperative Learning.
Untuk lebih jelasnya penulis akan
memaparkannya dalam makalah yang berjudul pembelajaran strategi Cooperative Learning dalam pembelajaran
IPS.
PEMBAHASAN
1.
Strategi
Cooperative Learning
a.
Pengertian
Strategi Cooperative Learning
Sistem
pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk
bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas terstruktur disebut sebagai
sistem ”pembelajaran gotong royong” atau cooperative
learning (Anita Lie, 2008: 12).
Cooperative
mengandung pengertian bekerjasama dalam mencapai tujuan bersama. Dalam kegiatan
kooperatif, siswa secara individual mencari hasil yang menguntungkan bagi
seluruh anggota kelompoknya. Jadi belajar kooperatif adalah pemanfaatan
kelompok kecil dalam pembelajaran yang memungkinkan siswa bekerjasama untuk
memaksimalkan belajara mereka dan belajar anggota lainnya dalam kelompok
tersebut. Sehubungan dengan pengertian tersebut, slavin (1984) mengatakan bahwa
cooperative learning adalah suatu
model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok – kelompok
kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4 – 6 orang, dengan
struktur kelompoknya yang bersifat heterogen. Selanjutnya dikatakan pula,
keberhasilan belajar dari kelompok tergantung pada kemampuan dan aktifitas
anggota kelompok, baik secara individual maupun secara kelompok (Etin Solihatin,
2008: 4).
Keberhasilan belajar menurut model
pembelajaran cooperative learning bukan semata – mata ditentukan oleh kemampuan
individu secara utuh, melainkan perolehan belajar itu akan semakin baik apabila
dilakukan secara bersama – sama dalam kelompok – kelompok kecil yang
terstruktur dengan baik. Melalui belajar dari teman yang sebaya dan di bawah
bimbingan guru, maka proses penerimaan dan pemahaman siswa akan semakin mudah
dan cepat terhadap materi yang dipelajari. Model pembelajaran cooperative
learning dapat membantu siswa dalam mengembangkan pemahaman dan sikapnya sesuai
dengan kehidupan nyata dimasyarakat, sehingga dalam bekerja secara bersama –
sama di antara sesama anggota kelompok akan meningkatkan motivasi,
produktifitas, dan perolehan belajar.
2.
Pembelajaran
IPS dengan Strategi Cooperative Learning
Pembelajaran adalah
membelajarkan siswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar yang
merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Pembelajaran merupakan proses
komunikasi dua arah, mengajarkan dilakukan oleh pihak guru sebagi pendidik,
sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik atau murid (Syaiful Sagala,
2007: 61). Beberapa hal yang
berkaitan dengan pembelajaran:
a.
Belajar
Belajar
adalah perubahan tingkah laku yang relatif mantap berkat latihan dan pengalaman
(Oemar Hamalik, 2002: 154). Disamping definisi tersebut, ada beberapa
pengertian lain yang cukup banyak, baik yang dilihat secara mikro maupun secara
makro, dilihat dalam arti luas ataupun secara terbatas/ khusus. Dalam arti luas, belajar dapat diartikan sebagai
kegiatan psiko-fisik menuju ke perkembangan pribadi seutuhnya. Kemudian dalam
arti sempit, belajar dimaksudkan sebagai usaha penguasaan materi ilmu
pengetahuan yang merupakan sebagian kegiatan menuju terbentuknya kepribadian
seutuhnya (Sardiman, 2007: 20). Adapun definisi dan pengertian belajar mengajar
menurut Nana Sudjana (1989: 6) adalah:
1)
Proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
2)
Proses mereaksi terhadap situasi yang ada disekitar
individu
3)
Suatu proses yang diarahkan kepada suatu tujuan, proses
berbuat melalui berbagai pengalaman
4)
Proses melihat, mengamati dan memahami suatu yang
dipelajari.
b.
Mengajar
Pengertian
Mengajar adalah segala upaya yang disengaja dalam rangka memberikan kemungkinan
bagi siswa untuk terjadinya proses belajar sesuai dengan tujuan yang telah
dirumuskan (Muhammad Ali, 1992: 12).
Rumusan pengertian di
atas sejalan dengan pandangan William H. Burton, yang menyatakan bahwa mengajar
adalah upaya dalam memberikan perangsang (stimulus) bimbingan, pengarahan dan
dorongan kepada siswa agar terjadi proses belajar (Muhammad Ali, 1992: 12).
c.
Menurut
Abdullah Nasih Ulwan dalam Bukunya Pendekatan anak dalam Islam disebutkan:
السّبل هب المطا لعة
الفا همة الد ئمة مع التَّلفين الو اعي
Jalan yang terbaik
adalah dengan membaca dan memahami secara terus menerus bacaan-bacaan tersebut
yang disertai dengan pengajaran yang tepat
d.
Teaching and learning activities will be more
interesting for the students, so it could motivate them,
Sedangkan menurut Kamus Inggris-Indonesia, artinya adalah pembelajaran akan
lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar.
|
|
Pembelajaran Cooperative Learning yang edukatif yakni adanya interaksi antara
guru dengan siswa, siswa dengan siswa dan dengan sumber pembelajaran dalam
menuju pencapaian tujuan belajar. Pembelajaran Cooperative Learning lebih dari sekedar belajar kelompok atau
kelompok kerja, karena belajar dalam model Cooperative
Learning harus ada “struktur dorongan dan tugas yang bersifat kooperatif”
sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka dan hubungan –
hubungan yang bersifat interdependensi yang efektif di antara anggota kelompok
dan model pembelajaran Cooperative
Learning menempatkan siswa sebagai bagian dari suatu sistem kerja sama
dalam mencapai suatu hasil yang optimal dalam belajar. Model pembelajaran ini
berangkat dari asumsi mendasar dalam masyarakat, yaitu “getting better
together”, atau “Raihlah yang lebih baik secara bersama - sama” (Etin solihatin,
2008; 4-5). Dalam proses pembelajaran Cooperative
Learning diharapkan guru dapat berperan sebagai pengajar, motivator,
fasilitator, mediator, evaluator, pembimbing dan agen pembaharu, dengan
demikian siswa dapat lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran.
Peranan siswa diberbagai lingkungan
sosial akan lebih bermakna apabila ilmu pengetahuan yang diperoleh dalam
pembelajaran sehari-hari disekolah diterapkan dengan baik. Dalam hal ini ilmu
pengetahuan sosial yang dimiliki siswa akan bermanfaat dan selalu bisa
beradaptasi dengan lingkungan sosial yang berbeda – beda.
Dalam pembelajaran IPS strategi Cooperative
Learning bisa digunakan untuk melatih siswa untuk bekerjasama atau“gotong
royong”, Interkasi yang bersifat terbuka, tanggung jawab individu, interaksi
sikap dan perilaku sosial yang positif dan Kepuasaan dalam belajar.
Adapun Prosedur yang dilakukan dalam
menggunakan strategi Cooperative Learning
adalah sebagai berikut :
a.
Penjelasan
Materi
Tahap
penjelasan diartikan sebagai proses penyampaian pokok-pokok materi pelajaran
sebelum siswa belajar dalam kelompok. Tujuan utama dalam tahap ini adalah
pemahaman siswa terhadap pokok materi pelajaran. Pada tahap ini guru memberikan
gambaran umum tentang materi pelajaran yang harus dikuasai yang selanjutnya
siswa akan memperdalam materi dalam pembelajaran kelompok (tim). Pada tahap ini
guru dapat menggunakan metode ceramah, curah pendapat, dan tanya jawab, bahkan
kalau perlu guru dapat menggunakan demonstrasi. Disamping itu, guru juga dapat
menggunakan berbagai media pembelajaran agar proses penyampaian dapat lebih
menarik siswa.
b.
Belajar
dalam Kelompok
Setelah guru
menjelaskan gambaran umum tentang pokok-pokok materi pelajaran, selanjutnya
siswa diminta untuk belajar pada kelompoknya masing-masing yang telah dibentuk
sebelumnya. Pengelompokan dalam Cooperative
Learning bersifat heterogen, artinya kelompok dibentuk bedasarkan
perbedaan-perbedaan setiap anggotanya, baik perbedaan gender, latar belakang
agama, sosial-ekonomi, dan etnik, serta perbedaan akademik. Dalam hal kemampuan
akademis, kelompok pembelajaran biasanya terdiri dari satu orang berkemampuan
akademis tinggi, dua orang dengan kemampuan sedang dan satu lainnya dari
kelompok kemampuan akademis kurang.
c.
Penilaian
Penilaian dalam Cooperative Learning bisa dilakukan
dengan tes atau kuis. Tes atau kuis dilakukan baik secara individual maupun
secara kelompok. Tes individual nantinya akan memberikan informasi kemampuan
setiap siswa; dan tes secara kelompok akan memberikan informasi kemampuan
setiap kelompok. Hasil akhir setiap siswa adalah penggabungan keduanya dan
dibagi dua. Nilai setiap kelompok memiliki nilai sama dalam kelompoknya. Hal
ini disebabkan nilai kelompok adalah nilai bersama dalam kelompoknya yang
merupakan hasil kerja sama setiap anggota kelompok.
d.
Pengakuan
Tim
Pengakuan tim (team recognition) adalah penetapan tim
yang dianggap paling menonjol atau tim paling berprestasi untuk kemudian diberikan
penghargaan atau hadiah. Pengakuan dan pemberian penghargaan tersebut
diharapkan dapat memotivasi tim untuk terus berprestasi dan juga membangkitkan
motivasi tim lain untuk lebih mampu meningkatkan prestasi mereka (Wina Sanjaya,
2009: 248-249).
PENUTUP
1. Simpulan
Pembelajaran
Cooperative Learning yang edukatif
yakni adanya interaksi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa dan dengan
sumber pembelajaran dalam menuju pencapaian tujuan belajar. Pembelajaran Cooperative Learning lebih dari sekedar
belajar kelompok atau kelompok kerja, karena belajar dalam model Cooperative Learning harus ada “struktur
dorongan dan tugas yang bersifat kooperatif” sehingga memungkinkan terjadinya
interaksi secara terbuka dan hubungan – hubungan yang bersifat interdependensi
yang efektif di antara anggota kelompok dan model pembelajaran Cooperative Learning menempatkan siswa
sebagai bagian dari suatu sistem kerja sama dalam mencapai suatu hasil yang
optimal dalam belajar.
Model
pembelajaran ini berangkat dari asumsi mendasar dalam masyarakat, yaitu
“getting better together”, atau “Raihlah yang lebih baik secara bersama - sama”
sehingga siswa dalam mempelajari mata pelajaran Ilmu pengetahuan sosial mampu
membina suatu masyarakat yang baik, dimana anggota-anggotanya dapat berkembang
sebagai insan sosial yang rasional dan bertanggung jawab sehingga dapat
diciptakan nilai-nilai budaya yang baik dikemudian hari.
Keberhasilan
belajar menurut model pembelajaran cooperative learning bukan semata – mata
ditentukan oleh kemampuan individu secara utuh, melainkan perolehan belajar itu
akan semakin baik apabila dilakukan secara bersama – sama dalam kelompok –
kelompok kecil yang terstruktur dengan baik. Melalui belajar dari teman yang
sebaya dan di bawah bimbingan guru, maka proses penerimaan dan pemahaman siswa
akan semakin mudah dan cepat terhadap materi yang dipelajari
2. Kata Penutup
Dalam
penulisan makalah ini penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak
kekurangan dan kesalahan. Untuk itu penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya
dan saran serta kritik sangat penulis harapkan.
Atas perhatiannya, penulis sampaikan terima kasih.
DAFTAR
PUSTAKA
A.Tabrani
Rusyan, 2005. Pedoman Pengajaran Pengetahuan Sosial. Jakarta: Inti Media
Abdulah Nasih
Ulwan, 1981. Pedoman Pendidikan Anak
dalam Islam Jilid 1. Terjemah Drs.Syaifullah Kamalie, LC dan Drs. Hery Aly.
Semarang: Asy-Syifa
Anita Lie, 2008.Mempraktikkan Cooperative Learning di
Ruang-Ruang Kelas, Jakarta : Grasindo
Depag RI, 2001, Konsep Dasar IPS,
Jakarta: Direktorat Jendral Kelembagaan Agama Islam
Dryden,
Gordon, and Vos, Jeannet. 2000. The Leerning Revolution (Alih Bahasa oleh
Word ++ Translating Service: Revolusi Cara Belajar). Bandung : Kaifa.
Etin Solikhatin, 2008. Cooperative Learning Analisis Model Pembelajaran
IPS. Jakarta: Bumi Aksara.
Oemar Hamalik, 2002. Perencanaan pengajaran berdasarkan
pendekatan sistem. Jakarta: Bumi aksara
Sunhaji. 2009. Strategi
Pembelajaran. Yogyakarta: Grafindo
Syaiful Sagala, 2007. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung;
CV Alfabeta
Wina sanjaya. 2009. Strategi
Pembelajaran Berorientasi Standar Proses. Jakarta: Kencana.
Komentar
Posting Komentar